BALI PENUH ‘BINTANG’
“The most beautiful island, I’m coming!!” teriakku ketika menginjakkan kaki di Ngurah Rai Airport. “Jess, gak usah alay gitu deh! Mana high heelsmu? Pake’!” tegur kak Lynda, kakakku yang paling killer tepatnya sejak enam bulan yang lalu, dan dia adalah satu-satunya saudaraku, yang menurutku ia sangat mirip dengan aktris dan model Marcella Zalianty “capek kak?!” “Jesslyn, kamu tuh besok akan dipromosikan jadi model muda Indonesia yang akan go internasional, biasain tiap hari pakek high heels! Jangan bikin maku kakak deh..” “huft! Iya deh, iya. Belum bisa nyaingin Carmanita, Biyan Wanaatmaja, bahkan Adjie Notonegoro yang pernah merancang busana untuk Bill Clinton aja, udah so’…” “kamu juga belum bisa tampil secatwalk sama Indah Kalalo, atau Catherine Wilson, kan??” “yaiyalah kak, mereka kan udah senior dan professional banget! Secara usia aja udah jauh diatasku” ujarku membela diri “ya udah sama!” katanya sewot, “skakmat deh!... trus ntar kita tinggal dimana?” “menurut undangan EOnya di Aston Kuta Hotel”
Sesampainya kami di Aston Kuta Hotel. “Good morning.., welcome in Aston Kuta Hotel. Can I help u?” sambut receptionis yang cantik “ya.., selamat pagi. Saya Lynda Regina Putri, dan dia adik saya, Jesslyn Regina Putri. Kami diundang dalam event pagelaran mode, besok Sabtu. Ini undangannya” jawab kak Lynda dengan tegas dan ramah seraya menyerahkan undangan. Kemudian kamipun mendapat kamar no.45. sebuah suite room, double bad dengan balkon, so comfortable …. Aku terjun dalam bed cover yang sejuk karena sentuhan AC, terlentang dan kulempar higheels ke segala arah “I don’t care”.
Di dalam hotel di bali ini tidak kudengar adzan, terpaksa nyalain TV dulu tiap kali mau sholat “Jess, entar jam 19.30 abis makan malam kita turun ke ballroom lantai bawah. Tehnical meeting buat acara besok “tehnical meeting kok di ballroom? Ballroomkan lantai dansa?” tanyaku “terserah panitianya donk!” “aku pakai gaun merah favoritku ya?” “gak ! pakai batik!” “kok batik? Emang mau kondangan?” “ long dress batik yang kakak disain!” “owh, kirain” “Jess… inget! Tunjukin good attitudemu!”
Suasana ballroom sudah lumayan riuh “Wuih.., baru TM aja udah pada saingan gaunnya..” bisikku “Kita harus bangga, karena Cuma kita yang pakek batik di ruangan ini, tapi juga patut kecewa, kenapa Cuma kita yang pakek batik?!” sahut kak Lynda.
Sesaaat setelah itu, sesook gadis bule yang dengan keindahan tubuhnya barjalan melenggang dengan highheels sekitar 10cm, memasuki ballroom. Jadi pusat perhatian??..tentu!!, terlihat seorang wanita dengan usia sekitar kepala tiga, berkulit hitam pekat yang tinggi badannya sepundak gadis tersebut, berada dibelakangnya yang disibukkan dengan tas cangklong dan sebuah notebook. “mungkin dia asistantnya…, mengingatkanku pada kesenjangan social antara kulit putih dan hitam babarapa tahun lalau di AS” tapi, ketika gadis itu melangkah tepat didepanku dengan wajahku yang jutek, lirikan maytanya yang sinis memanah dress batikku,tak berkedippun hingga mungkin 5 langkah kedepan “peculiar..”bisiknya menyindirku, akupun tergelak kaget “It’s about my culture, U are jealous, aren’t U?? kataku bebas agak meringis. Dan… “gubrak!!” gadis itu terjatuh ke lantai. “hah..?!” suara yang hamper serempak dari hamper seluruh orang dalam ballroom. “Jesslin? Pasti gara-gara kamu, yak an?! Sana bantuin!?” tegur kak Lynda “apa? Enggak!!!” “Jesslin!!!!”bentak kak Lynda. Akupun menghampiri gadis tersebut dengan muka sebel. Aku ulurkan tanganku padanya “Mangkane toh, cah ayu, ojo so’ terkenal!!” kataku “what?” katanya dengan wajah antara malu-sebel dan bingung-tak mengerti. Akupun meralat perkataanku, agar dia tidak tersinggung “I’ll help U, come on! Stand up!” dia gapai tanganku dan berdiri, mengelus gaun serta tatanan rambutnya sebentar, dan kembali dengan tampang so’ popularnya “Thanks !” katanya amat sangat ringan, dan kambali melenggang. Technukal meeting dimulai, suasana sangat tenang.s
Dua jam kemudian, aku dankak Lynda kembali ke kamar, sedangkan yang lain masih banyak yang tetap di ballroom, menikmati music jazzy yang menghanyutkan mereka dalam dansa. “Jess, kok bisa Cuma karena kamu pelototin cewek tadi bisa jatuh?” “makannya, jangan main-main sama mata bulatku” kataku bangga “jelasin yang bener!!” “iya, iya, ah! Jadi gini loh kak, tadi tuh si bule itu nglirik long dressku dengan sinis banget. Seolah dia meremehkan mahakarya bangsa kita, batik, ya aku gertak dan pelototin dia” jelasku “yah, anggap aja dia yang so’ popular, tapi kuper, sampai-sampai batik Indonesia punya yang jadi rebutan Negara-negara tetangga ja gak tau!” “that’s good… tumben kakak sependapat sama aku?!” “ya kebetulan, karena busana dan batik adalah jalurku” “skakmat lagi?! Ngalah deh, ngalah…”
Matahari mengendap-endap mengintip lautan dibibir pulau dewata. Lalu lalang pelancong, turis domestic maupun mancanegara hingga tour guide yang mulai sibuk dengan para customer jasanya. Bagiku keindahan ini seolah mahakarya dari tangan sang maha pemilik keindahan. Orang bilang pulau ini adalah surge dunia. Ya…, satu dari sepuluh pantai terindah di dunia ini sangat merefreshkan pikiranku. Di balkon, aku dan kak Lynda telah focus pada gadget masing-masing. Kak Lynda yang telah memangku newspaper iPad dan green tea hangat di meja tempat siku kanannya bersandar. Gadis yang telah mengenyam bangku fashion design school, The Royal College of Art di Inggris selama tiga tahun ini. Sangat menggilai green tea yang menurutku sangat membosankan dan pahit, baginya tiada pagi dan sore tanpa secangkir green tea. Aku masih dengan piamaku hanya merenung didepan laptop+USB modemnya, “mau browsing apa ya? Hemmh, this is boring”. Akupun log in di blogku. Kalimat-kalimat penuh makna mulai kurangkai disana.
“Senandung ombak dan gamersik pasir
Simpul senyum para penghibur dan pelayan
Digandrungi berbagai ras bhuwana
Dari yang berkulit hitam sampai yang memakai sorban
Dari yang berkulit putih sampai yang bermata sipit
Disetiap alur Gilimanuk hingga Seraya
Singaraja sampai Luhur
Satu yang terindah dari pulau-pulau indah
Bagian Nusantara yang berwawasan mancanegara
Pagar terayu di baris khatulistiwa
Ramah dengan seribu pura
Majegau dan jalaknya yang elok, langka
Yang konon terjadi Puputan Margarana
Begitulah……..
Bali Dwipa Jaya”
Hari semakin panas, aku dan kak Lynda semakin sibuk umtuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pagelaran mode nanti malam. “Jess.., kita ke salon sekarang!” “ngapain? Biasanya juga perawatan sendiri kan?” “gak usah! Kelamaan!” “huft?!!” desahku. Usai kami memanjakan diri di salon kecantikan. Kamipun bersiap untuk menuju Bali Art Centre. Tepat pukul 19.00 WITA, seluruh designer yang busananya akan ditampilkan serta para model telah siap di backstage. Pagelaran mode yang bertema The Style Culture of Balinese ini dihadiri oleh puluhan fashionista, beberapa pengamat mode termasuk salah satunya Muara Bagdja, dan banyak supermodel Indonesia lainnya. Dalam pagelaran ini aka nada penghargaan bagi the best model dan the best designer yang diambil dari vouting para tamu undangan maupun penonton. Akhirnya acara dimulai, dan aku bertemu lagi dengan gadis bule kemarin. “Grace…, come here!” panggil wanita berkulit hitam yang juga kutemui kemarin “ouh, jadi namanya Grace?!” bisik monologku. Setelah berbagai macam sambutan dan pembukaan dengan tari pendet. Aku tampil pada urutan ke enam dari sepuluh model pendatang baru, yang dua diantaranya akan terpilih menjadi the most favorite model pertama dan kedua. “Bismillahirrahmaanirrakhiim” aku pun melenggang di catwalk, kutunjukkan semua good attitude, skill, dan kharismaku….. “godjob girl!” kata kak Lynda yang tiba-tiba menepuk pundakku di backstage. “thanks kak!” “siip!”
Selama di ruang makeup aku selalu mencoba ramah pada semua model, dan mereka menyambut dengan baik kecuali Grace. Ya.., gadis itu tetap pada keangkuhannya yang so’ popular. “kamu sudah mengatur? Biar…penonton pilih saya?” bisik Grace pada asistantnya dengan terbata-bata karena logatnya yang masih kental dengan logat Inggris. Tersenyum lebar asistantnya itu seraya mengacungkan jempol kanannya. “wuih.., main belakang dia?! Lihat aja ntar siapa yang berhasil jadi pemenang!” bisikku pula. Selang tiga jam, sepuluh model dan empat designer naik ke atas panggung untuk mendengarkan dan menyaksikan langsung pengumuman. MC pun mulai mengumumkan “… peraih vouting tertinggi kedua adalah Grace Shinesnow. Chongratulation Grace!” “what? Just be the second runner up? Busyit!” kata Grace pelan dengan tampang kaget yang tepat disampingku. “….dan the most favorite model, jatuh pada Jesslyn Regina Putri!! Selamat ya Jesslyn!” “Subhanallah? Aku?” kataku kaget dengan tangan didada dan wajah tak percaya, kubingkai senyum dan maju kedepan bersama Grace untuk menerima panghargaan. “wah, selamat Lyn! Adikmu jadi pemenang! Dia punya khariisma dan attitude yang bagus! Sekali lagi selamat!” ucap Edo Subagyo, salah satu designer yang berdiri tepat disamping kak Lynda yang samar-samar kudengar “terimakasih!” sambut kak Lynda dengan senyum manis. “…peraih penghargaan designer terbaik, jatuh pada.. Karina Harahab. Untuk peraih terbaik kedua yaitu Lynda Regina Putri!...” seluruh model dan designer mendapat piagam penghargaan, namun hanya pemenang yang mendapat pertama dan kedua yang mendapat bucket bunga dan piala kaca berbentuk bintang dengan ukiran wanita melenggang bergaun. “Kak Lynda!” teriakku berlari kecil menghampirinya dan memeluknya ringan ketika kami sudah keluar dari Bali Art Centre “ini baru Jesslyn Regina Putri!” banngga kak Lynda “makasih kak!, tapi kenapa kakak Cuma peraih terbaik kedua?” “iya, Karina Harahab itu sangat berpengalaman dan lebih professional daripada kakak” jelasnya yakin “ouw.., kak kita ke pantai yuk! Biasanya kalo malam minggu gini ramai, ada pertunjukan tari kecak, yuk!” ajakku “oke, kali ini kakak turutin, sekalian cari makan malam” jelasnya.
Dengan sebuah taxi, kami meluncur ke Kuta, suasana Kuta yang hangat, dan dipenuhi turis domestic maupun mancanegara hampir disetiap jalan. “emmm kak! Kapan kakak married??” tanyaku tiba-tiba sedikit bergurau yang sepertinya mengagetkan kak Lynda “apa???, bukan saatnya kamu tanyain itu!!” “whateverlah.., sela..lu sensitive!” sahutku sinis. Langkah kami mengarah pada sebuah rumah makan dengan banyak gazebo, dan memiliki berbagai menu khas jawa timur, ada pula lalapan ayam bakar, menu favoritku. Setelah aku dan kak Lynda bersila di gazebo paling luar yang dapat melihat pamandangan laut dengan jalas.”kak, ntar jadi kan nonton kecak?” “ah! Nggak usah udah malem!” “tadi kan kakak udah mengiyakan! Ayolah kak?!?” “enggak! Harga mati!” “kak Lynda kok gitu sih.., kakak gak konsistant ternyata!” “udahlah Jess, ngapain sih? Serem tau!!” “apa? Apanya yang serem? Keren tau kak! Itu tuh tentang kisah Ramayana, salah satunya dimana saat Dewi Sinta diculik oleh Rahwana. Tampilannya sekitar 50 hingga 70 yang bermusik secara akapela!” “eng-gak! Ntar kalo ada bola api? Barong? Bahkan kalo penarinya sampe’ gak sadar?!” “kenapa sih…, selalu aku yang ngalah? Sebenarnya yang lebih dewasa tuh, aku? Atau kak Lynda??” suasana semakin panas. Aku semakin jengkel sama kak Lynda. Tiba-tiba ada seorang pria tampan yang menarik perhatianku, yang mengenakan kaos tipis dan jaket, badannya terlihat sixpack. Dari gaya rambutnya…. “kak Agil!!!” panggilku spontan. Pria itupun kaget, dengan wajah penuh harap, ia menghampiri kami. “Jesslyn? Ouh Lynda?! Kamu disini?!” “Agil? Ngapain kamu disini?” Tanya kak Lynda kaget dan nerveous. “aku minta waktumu sebentar, aku pingin ngobrol berdua sama kamu!” pinta kak Agil dengan menarik pelan tangan kak Lynda. Kak Lynda pun turun dari gazebo dan mengikuti langkah kak Agil penuh penasaran. “eh! Tapi! Tadi udah cuci tangan! Belum mencicipi ayamnya sama sekali! Kak kak Lyndanya diajak pergi! Aku tadi udah mau bikin kak Lynda kehabisan kata!!” teriakku tanpa henti “hemmh, daripada lumutan disini, aku ikutin ah!” akupun mengikuti mereka dengan lari kecil. Berhenti di sebuah tempat, seolah terjadi sebuah drama kolosal antara putri pingitan yang dibawa kabur sang pangeran idaman yang sesungguhnya, sayangnya tidak dengan menunggang kuda. Dengan setting alam, instrument dari desir ombak dan hembusan angin, serta background laut biru pekat dan cahaya gugusan bintang diatasnya. Dari jarak sekitar 8meter, aku duduk di pasir dengan bertopang dagu. Sangat teliti, kuperhatikan mereka yang berdiri saling berhadapan “Lyn, sebelumnya aku mohon, maafin segala kesalahanku padamu selama ini” mohon kak Agil dengan tetap memegang kedua tangan kak Lynda “gak ada yang perlu dimaafin! Ada apa sih?” tanya kak Lynda “demi Tuhan Lyn, sejak enam bulan yang lalu kita bubar, hidupku berantakan. Aku hampir di DO, padahal semester setelah itu aku udah mau nyusun tesis buat S2ku di ITS, dan banyak targetku yang hancur karena ketidak stabilanku tanpa kamu, Lyn..?!” terang kak Agil gelisah “hampir di drop out? Target hancur?? Ya Allah, Agi..l?” sahut kak Lynda “karena itu Lyn, aku pingin kita balikan, keputusanku enam bulan yang lalu buat kita bubbar, gak beralasan, aku terlalu terbawa emosi. Kamu masih sayangkan sama aku? Aku sengaja Lyn dating kesini, buat nyari kamu, kemari aku kerumah kamu, kata mama kamu, kamu sedang di Bali. Lyn?? Kumohon…, kita balikan ya?!!” pinta kak Agil lagi. Kak Lynda dengan wajah sendupun berkata “sebenarnya, aku juga masih sangat saying sama kamu Gil, dan aku mau banget kita balikan” kak Agil pun mencim tangan kak Lynda, mereka berpelukan, dan kak Agil kembali mencium kening kak Lynda. “hore!!!” teriakku seketika, dengan sadar mereka melepas pelukannya “gitu dong! Kalo udah ada kak Agil, kak Lynda gak bakal sensitive lagi, dan gak ada debat lagi! Kalo gitu sekarang kita kedepan pura tempat pertunjukan kecak diujung jalan sana yuk!?” tambahku.
Kak Lynda, dengan senyum manis menggandeng kak Agil. Menuju sebuah mobil fortuner milik kak Agil. “yes! Kita mau liat kecak kan? Tapi sayang, tadi ayam bakarnya belum sempat dicicipi, padahal udah bayar billnya?!” kataku “kamu pilih ayam bakar, atau nonton kecak?” sahut kak Lynda “iya deh, iya! Tuhkan kak Agil, kak Lynda itu loh?!” manjaku pada kak Agil “hehehehe” responnya ringan dengan tangan kirinya yang tetap menggenggam tangan kanan kak Lynda. Kami pun tiba didepan pura “that’s great culture! Kalian tau gak?” kataku meminta perhatian pada kak Lynda dan kak Agil saat kami telah berdiri diantar penonton yang lain “apa?” sahut mereka bersamaan “Kecak tuh, berasal dari ritual Sanghyang menurut agama Hindu, yaitu tradisi dimana penarinya akan dalam keadaan tidak sadar karena melakukan komunikasi dengan Tuhan, atau roh para leluhur, yang kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Unik ya…?!” jelasku “dan kamu tau Jess, siapa coba penciptanya?” sahut kak Agil “siapa?” kataku yang bersamaan dengan kak Lynda “penciptanya adalah Wayan Limbak dan pelukis asal Jerman, Walter Spies, pada tahin 1930an” terang kak Agil bijak. Setelah 15 menit berlalu, “kita kembali ke hotel yuk.., besok pagi kita harus pulang loh Jess!” ajak kak Lynda.
Kami pun pulang diantar kak Agil kembali ke Aston Hotel, hingga kedepan kamar. Sedangkan kak Agil kembali ke tempat hotel ia menginap. “Hemmh.., capeknya dan senangnya hari ini?!” akupun langsung ambil wudlu untuk sholat isya’ berjamaah dengan kak Lynda dan beranjak tidur. Esok harinya…..
“Bangun dikala subuh,
Dibasuh kesegaran tirta alam
Fajar mendongak mengulurkan senyum
Pagiku sesumringah awan
Berbalut kehangatan sang surya
Alhamdulillahirabbil’alamin”
Aku dan kak Lynda pulang ke kota pahlawan, ke rumah kami, Surabaya. Untuk selanjutnya menunggu undangan dari management penyelenggara pagelaran mode di Bali kemarin untuk acara The Exhibition ‘Batik’ Culture of Indonesia di Sidney.
======= Selesai ========
By : Dian W.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar