BALI PENUH ‘BINTANG’
“The most beautiful island, I’m coming!!” teriakku ketika menginjakkan kaki di Ngurah Rai Airport. “Jess, gak usah alay gitu deh! Mana high heelsmu? Pake’!” tegur kak Lynda, kakakku yang paling killer tepatnya sejak enam bulan yang lalu, dan dia adalah satu-satunya saudaraku, yang menurutku ia sangat mirip dengan aktris dan model Marcella Zalianty “capek kak?!” “Jesslyn, kamu tuh besok akan dipromosikan jadi model muda Indonesia yang akan go internasional, biasain tiap hari pakek high heels! Jangan bikin maku kakak deh..” “huft! Iya deh, iya. Belum bisa nyaingin Carmanita, Biyan Wanaatmaja, bahkan Adjie Notonegoro yang pernah merancang busana untuk Bill Clinton aja, udah so’…” “kamu juga belum bisa tampil secatwalk sama Indah Kalalo, atau Catherine Wilson, kan??” “yaiyalah kak, mereka kan udah senior dan professional banget! Secara usia aja udah jauh diatasku” ujarku membela diri “ya udah sama!” katanya sewot, “skakmat deh!... trus ntar kita tinggal dimana?” “menurut undangan EOnya di Aston Kuta Hotel”
Sesampainya kami di Aston Kuta Hotel. “Good morning.., welcome in Aston Kuta Hotel. Can I help u?” sambut receptionis yang cantik “ya.., selamat pagi. Saya Lynda Regina Putri, dan dia adik saya, Jesslyn Regina Putri. Kami diundang dalam event pagelaran mode, besok Sabtu. Ini undangannya” jawab kak Lynda dengan tegas dan ramah seraya menyerahkan undangan. Kemudian kamipun mendapat kamar no.45. sebuah suite room, double bad dengan balkon, so comfortable …. Aku terjun dalam bed cover yang sejuk karena sentuhan AC, terlentang dan kulempar higheels ke segala arah “I don’t care”.
Di dalam hotel di bali ini tidak kudengar adzan, terpaksa nyalain TV dulu tiap kali mau sholat “Jess, entar jam 19.30 abis makan malam kita turun ke ballroom lantai bawah. Tehnical meeting buat acara besok “tehnical meeting kok di ballroom? Ballroomkan lantai dansa?” tanyaku “terserah panitianya donk!” “aku pakai gaun merah favoritku ya?” “gak ! pakai batik!” “kok batik? Emang mau kondangan?” “ long dress batik yang kakak disain!” “owh, kirain” “Jess… inget! Tunjukin good attitudemu!”
Suasana ballroom sudah lumayan riuh “Wuih.., baru TM aja udah pada saingan gaunnya..” bisikku “Kita harus bangga, karena Cuma kita yang pakek batik di ruangan ini, tapi juga patut kecewa, kenapa Cuma kita yang pakek batik?!” sahut kak Lynda.
Sesaaat setelah itu, sesook gadis bule yang dengan keindahan tubuhnya barjalan melenggang dengan highheels sekitar 10cm, memasuki ballroom. Jadi pusat perhatian??..tentu!!, terlihat seorang wanita dengan usia sekitar kepala tiga, berkulit hitam pekat yang tinggi badannya sepundak gadis tersebut, berada dibelakangnya yang disibukkan dengan tas cangklong dan sebuah notebook. “mungkin dia asistantnya…, mengingatkanku pada kesenjangan social antara kulit putih dan hitam babarapa tahun lalau di AS” tapi, ketika gadis itu melangkah tepat didepanku dengan wajahku yang jutek, lirikan maytanya yang sinis memanah dress batikku,tak berkedippun hingga mungkin 5 langkah kedepan “peculiar..”bisiknya menyindirku, akupun tergelak kaget “It’s about my culture, U are jealous, aren’t U?? kataku bebas agak meringis. Dan… “gubrak!!” gadis itu terjatuh ke lantai. “hah..?!” suara yang hamper serempak dari hamper seluruh orang dalam ballroom. “Jesslin? Pasti gara-gara kamu, yak an?! Sana bantuin!?” tegur kak Lynda “apa? Enggak!!!” “Jesslin!!!!”bentak kak Lynda. Akupun menghampiri gadis tersebut dengan muka sebel. Aku ulurkan tanganku padanya “Mangkane toh, cah ayu, ojo so’ terkenal!!” kataku “what?” katanya dengan wajah antara malu-sebel dan bingung-tak mengerti. Akupun meralat perkataanku, agar dia tidak tersinggung “I’ll help U, come on! Stand up!” dia gapai tanganku dan berdiri, mengelus gaun serta tatanan rambutnya sebentar, dan kembali dengan tampang so’ popularnya “Thanks !” katanya amat sangat ringan, dan kambali melenggang. Technukal meeting dimulai, suasana sangat tenang.s
Dua jam kemudian, aku dankak Lynda kembali ke kamar, sedangkan yang lain masih banyak yang tetap di ballroom, menikmati music jazzy yang menghanyutkan mereka dalam dansa. “Jess, kok bisa Cuma karena kamu pelototin cewek tadi bisa jatuh?” “makannya, jangan main-main sama mata bulatku” kataku bangga “jelasin yang bener!!” “iya, iya, ah! Jadi gini loh kak, tadi tuh si bule itu nglirik long dressku dengan sinis banget. Seolah dia meremehkan mahakarya bangsa kita, batik, ya aku gertak dan pelototin dia” jelasku “yah, anggap aja dia yang so’ popular, tapi kuper, sampai-sampai batik Indonesia punya yang jadi rebutan Negara-negara tetangga ja gak tau!” “that’s good… tumben kakak sependapat sama aku?!” “ya kebetulan, karena busana dan batik adalah jalurku” “skakmat lagi?! Ngalah deh, ngalah…”
Matahari mengendap-endap mengintip lautan dibibir pulau dewata. Lalu lalang pelancong, turis domestic maupun mancanegara hingga tour guide yang mulai sibuk dengan para customer jasanya. Bagiku keindahan ini seolah mahakarya dari tangan sang maha pemilik keindahan. Orang bilang pulau ini adalah surge dunia. Ya…, satu dari sepuluh pantai terindah di dunia ini sangat merefreshkan pikiranku. Di balkon, aku dan kak Lynda telah focus pada gadget masing-masing. Kak Lynda yang telah memangku newspaper iPad dan green tea hangat di meja tempat siku kanannya bersandar. Gadis yang telah mengenyam bangku fashion design school, The Royal College of Art di Inggris selama tiga tahun ini. Sangat menggilai green tea yang menurutku sangat membosankan dan pahit, baginya tiada pagi dan sore tanpa secangkir green tea. Aku masih dengan piamaku hanya merenung didepan laptop+USB modemnya, “mau browsing apa ya? Hemmh, this is boring”. Akupun log in di blogku. Kalimat-kalimat penuh makna mulai kurangkai disana.
“Senandung ombak dan gamersik pasir
Simpul senyum para penghibur dan pelayan
Digandrungi berbagai ras bhuwana
Dari yang berkulit hitam sampai yang memakai sorban
Dari yang berkulit putih sampai yang bermata sipit
Disetiap alur Gilimanuk hingga Seraya
Singaraja sampai Luhur
Satu yang terindah dari pulau-pulau indah
Bagian Nusantara yang berwawasan mancanegara
Pagar terayu di baris khatulistiwa
Ramah dengan seribu pura
Majegau dan jalaknya yang elok, langka
Yang konon terjadi Puputan Margarana
Begitulah……..
Bali Dwipa Jaya”
Hari semakin panas, aku dan kak Lynda semakin sibuk umtuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk pagelaran mode nanti malam. “Jess.., kita ke salon sekarang!” “ngapain? Biasanya juga perawatan sendiri kan?” “gak usah! Kelamaan!” “huft?!!” desahku. Usai kami memanjakan diri di salon kecantikan. Kamipun bersiap untuk menuju Bali Art Centre. Tepat pukul 19.00 WITA, seluruh designer yang busananya akan ditampilkan serta para model telah siap di backstage. Pagelaran mode yang bertema The Style Culture of Balinese ini dihadiri oleh puluhan fashionista, beberapa pengamat mode termasuk salah satunya Muara Bagdja, dan banyak supermodel Indonesia lainnya. Dalam pagelaran ini aka nada penghargaan bagi the best model dan the best designer yang diambil dari vouting para tamu undangan maupun penonton. Akhirnya acara dimulai, dan aku bertemu lagi dengan gadis bule kemarin. “Grace…, come here!” panggil wanita berkulit hitam yang juga kutemui kemarin “ouh, jadi namanya Grace?!” bisik monologku. Setelah berbagai macam sambutan dan pembukaan dengan tari pendet. Aku tampil pada urutan ke enam dari sepuluh model pendatang baru, yang dua diantaranya akan terpilih menjadi the most favorite model pertama dan kedua. “Bismillahirrahmaanirrakhiim” aku pun melenggang di catwalk, kutunjukkan semua good attitude, skill, dan kharismaku….. “godjob girl!” kata kak Lynda yang tiba-tiba menepuk pundakku di backstage. “thanks kak!” “siip!”
Selama di ruang makeup aku selalu mencoba ramah pada semua model, dan mereka menyambut dengan baik kecuali Grace. Ya.., gadis itu tetap pada keangkuhannya yang so’ popular. “kamu sudah mengatur? Biar…penonton pilih saya?” bisik Grace pada asistantnya dengan terbata-bata karena logatnya yang masih kental dengan logat Inggris. Tersenyum lebar asistantnya itu seraya mengacungkan jempol kanannya. “wuih.., main belakang dia?! Lihat aja ntar siapa yang berhasil jadi pemenang!” bisikku pula. Selang tiga jam, sepuluh model dan empat designer naik ke atas panggung untuk mendengarkan dan menyaksikan langsung pengumuman. MC pun mulai mengumumkan “… peraih vouting tertinggi kedua adalah Grace Shinesnow. Chongratulation Grace!” “what? Just be the second runner up? Busyit!” kata Grace pelan dengan tampang kaget yang tepat disampingku. “….dan the most favorite model, jatuh pada Jesslyn Regina Putri!! Selamat ya Jesslyn!” “Subhanallah? Aku?” kataku kaget dengan tangan didada dan wajah tak percaya, kubingkai senyum dan maju kedepan bersama Grace untuk menerima panghargaan. “wah, selamat Lyn! Adikmu jadi pemenang! Dia punya khariisma dan attitude yang bagus! Sekali lagi selamat!” ucap Edo Subagyo, salah satu designer yang berdiri tepat disamping kak Lynda yang samar-samar kudengar “terimakasih!” sambut kak Lynda dengan senyum manis. “…peraih penghargaan designer terbaik, jatuh pada.. Karina Harahab. Untuk peraih terbaik kedua yaitu Lynda Regina Putri!...” seluruh model dan designer mendapat piagam penghargaan, namun hanya pemenang yang mendapat pertama dan kedua yang mendapat bucket bunga dan piala kaca berbentuk bintang dengan ukiran wanita melenggang bergaun. “Kak Lynda!” teriakku berlari kecil menghampirinya dan memeluknya ringan ketika kami sudah keluar dari Bali Art Centre “ini baru Jesslyn Regina Putri!” banngga kak Lynda “makasih kak!, tapi kenapa kakak Cuma peraih terbaik kedua?” “iya, Karina Harahab itu sangat berpengalaman dan lebih professional daripada kakak” jelasnya yakin “ouw.., kak kita ke pantai yuk! Biasanya kalo malam minggu gini ramai, ada pertunjukan tari kecak, yuk!” ajakku “oke, kali ini kakak turutin, sekalian cari makan malam” jelasnya.
Dengan sebuah taxi, kami meluncur ke Kuta, suasana Kuta yang hangat, dan dipenuhi turis domestic maupun mancanegara hampir disetiap jalan. “emmm kak! Kapan kakak married??” tanyaku tiba-tiba sedikit bergurau yang sepertinya mengagetkan kak Lynda “apa???, bukan saatnya kamu tanyain itu!!” “whateverlah.., sela..lu sensitive!” sahutku sinis. Langkah kami mengarah pada sebuah rumah makan dengan banyak gazebo, dan memiliki berbagai menu khas jawa timur, ada pula lalapan ayam bakar, menu favoritku. Setelah aku dan kak Lynda bersila di gazebo paling luar yang dapat melihat pamandangan laut dengan jalas.”kak, ntar jadi kan nonton kecak?” “ah! Nggak usah udah malem!” “tadi kan kakak udah mengiyakan! Ayolah kak?!?” “enggak! Harga mati!” “kak Lynda kok gitu sih.., kakak gak konsistant ternyata!” “udahlah Jess, ngapain sih? Serem tau!!” “apa? Apanya yang serem? Keren tau kak! Itu tuh tentang kisah Ramayana, salah satunya dimana saat Dewi Sinta diculik oleh Rahwana. Tampilannya sekitar 50 hingga 70 yang bermusik secara akapela!” “eng-gak! Ntar kalo ada bola api? Barong? Bahkan kalo penarinya sampe’ gak sadar?!” “kenapa sih…, selalu aku yang ngalah? Sebenarnya yang lebih dewasa tuh, aku? Atau kak Lynda??” suasana semakin panas. Aku semakin jengkel sama kak Lynda. Tiba-tiba ada seorang pria tampan yang menarik perhatianku, yang mengenakan kaos tipis dan jaket, badannya terlihat sixpack. Dari gaya rambutnya…. “kak Agil!!!” panggilku spontan. Pria itupun kaget, dengan wajah penuh harap, ia menghampiri kami. “Jesslyn? Ouh Lynda?! Kamu disini?!” “Agil? Ngapain kamu disini?” Tanya kak Lynda kaget dan nerveous. “aku minta waktumu sebentar, aku pingin ngobrol berdua sama kamu!” pinta kak Agil dengan menarik pelan tangan kak Lynda. Kak Lynda pun turun dari gazebo dan mengikuti langkah kak Agil penuh penasaran. “eh! Tapi! Tadi udah cuci tangan! Belum mencicipi ayamnya sama sekali! Kak kak Lyndanya diajak pergi! Aku tadi udah mau bikin kak Lynda kehabisan kata!!” teriakku tanpa henti “hemmh, daripada lumutan disini, aku ikutin ah!” akupun mengikuti mereka dengan lari kecil. Berhenti di sebuah tempat, seolah terjadi sebuah drama kolosal antara putri pingitan yang dibawa kabur sang pangeran idaman yang sesungguhnya, sayangnya tidak dengan menunggang kuda. Dengan setting alam, instrument dari desir ombak dan hembusan angin, serta background laut biru pekat dan cahaya gugusan bintang diatasnya. Dari jarak sekitar 8meter, aku duduk di pasir dengan bertopang dagu. Sangat teliti, kuperhatikan mereka yang berdiri saling berhadapan “Lyn, sebelumnya aku mohon, maafin segala kesalahanku padamu selama ini” mohon kak Agil dengan tetap memegang kedua tangan kak Lynda “gak ada yang perlu dimaafin! Ada apa sih?” tanya kak Lynda “demi Tuhan Lyn, sejak enam bulan yang lalu kita bubar, hidupku berantakan. Aku hampir di DO, padahal semester setelah itu aku udah mau nyusun tesis buat S2ku di ITS, dan banyak targetku yang hancur karena ketidak stabilanku tanpa kamu, Lyn..?!” terang kak Agil gelisah “hampir di drop out? Target hancur?? Ya Allah, Agi..l?” sahut kak Lynda “karena itu Lyn, aku pingin kita balikan, keputusanku enam bulan yang lalu buat kita bubbar, gak beralasan, aku terlalu terbawa emosi. Kamu masih sayangkan sama aku? Aku sengaja Lyn dating kesini, buat nyari kamu, kemari aku kerumah kamu, kata mama kamu, kamu sedang di Bali. Lyn?? Kumohon…, kita balikan ya?!!” pinta kak Agil lagi. Kak Lynda dengan wajah sendupun berkata “sebenarnya, aku juga masih sangat saying sama kamu Gil, dan aku mau banget kita balikan” kak Agil pun mencim tangan kak Lynda, mereka berpelukan, dan kak Agil kembali mencium kening kak Lynda. “hore!!!” teriakku seketika, dengan sadar mereka melepas pelukannya “gitu dong! Kalo udah ada kak Agil, kak Lynda gak bakal sensitive lagi, dan gak ada debat lagi! Kalo gitu sekarang kita kedepan pura tempat pertunjukan kecak diujung jalan sana yuk!?” tambahku.
Kak Lynda, dengan senyum manis menggandeng kak Agil. Menuju sebuah mobil fortuner milik kak Agil. “yes! Kita mau liat kecak kan? Tapi sayang, tadi ayam bakarnya belum sempat dicicipi, padahal udah bayar billnya?!” kataku “kamu pilih ayam bakar, atau nonton kecak?” sahut kak Lynda “iya deh, iya! Tuhkan kak Agil, kak Lynda itu loh?!” manjaku pada kak Agil “hehehehe” responnya ringan dengan tangan kirinya yang tetap menggenggam tangan kanan kak Lynda. Kami pun tiba didepan pura “that’s great culture! Kalian tau gak?” kataku meminta perhatian pada kak Lynda dan kak Agil saat kami telah berdiri diantar penonton yang lain “apa?” sahut mereka bersamaan “Kecak tuh, berasal dari ritual Sanghyang menurut agama Hindu, yaitu tradisi dimana penarinya akan dalam keadaan tidak sadar karena melakukan komunikasi dengan Tuhan, atau roh para leluhur, yang kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Unik ya…?!” jelasku “dan kamu tau Jess, siapa coba penciptanya?” sahut kak Agil “siapa?” kataku yang bersamaan dengan kak Lynda “penciptanya adalah Wayan Limbak dan pelukis asal Jerman, Walter Spies, pada tahin 1930an” terang kak Agil bijak. Setelah 15 menit berlalu, “kita kembali ke hotel yuk.., besok pagi kita harus pulang loh Jess!” ajak kak Lynda.
Kami pun pulang diantar kak Agil kembali ke Aston Hotel, hingga kedepan kamar. Sedangkan kak Agil kembali ke tempat hotel ia menginap. “Hemmh.., capeknya dan senangnya hari ini?!” akupun langsung ambil wudlu untuk sholat isya’ berjamaah dengan kak Lynda dan beranjak tidur. Esok harinya…..
“Bangun dikala subuh,
Dibasuh kesegaran tirta alam
Fajar mendongak mengulurkan senyum
Pagiku sesumringah awan
Berbalut kehangatan sang surya
Alhamdulillahirabbil’alamin”
Aku dan kak Lynda pulang ke kota pahlawan, ke rumah kami, Surabaya. Untuk selanjutnya menunggu undangan dari management penyelenggara pagelaran mode di Bali kemarin untuk acara The Exhibition ‘Batik’ Culture of Indonesia di Sidney.
======= Selesai ========
By : Dian W.
Pandangan Tentang IPS
Rabu, 15 Desember 2010
Saya adalah siswi SMA Negeri 1 Purwosari kelas XI IPS. Awalnya, saya ingin memilih jurusan Language Program, karena saya merasa memiliki nilai plus pada pelajaran b. Indonesia dan b. Inggris. Namun keluarga menyarankan saya untuk memilih antara IPA atau IPS. Dengan penuh pertimbangan, saya memilih IPS. Mengapa saya memilih IPS, karena saya lemah dalam hal menghitung. Matematika dengan bentuk-bentuk variabel apalagi logaritma, dan kimia dengan atom maupun unsur-unsurnya yang sulit saya masukkan alam bawah sadar saya. Sabelumnya, saya merasa cemas dan khawatir, takut terpengaruh hal-hal buruk siswa IPS yang katanya “urakan”.
Keluarga saya, terutama ayah saya awalnya kaget karena dengan sendirinya saya mengambil jurusan IPS padahal beliau sendiri lulusan S1 fak. ekonomi, termasuk tetangga-tetangga di rumah, dan beberapa teman di sekolah. Saya yakin mereka sudah berfikiran buruk dengan IPS selama ini. Lain halnya dengan Pakdhe saya, beliau seorang dosen fakultas ekonomi di salah satu Universitas Negeri di Malang, beliau mendukung saya penuh untuk jurusan ini. Saya tidak boleh goyah, apalagi menyeasal. Sekarang dunia saya adalah IPS, apapun yang terjadi saya harus tetap menjadi yang terbaik di dunia saya. Meskipun bukan best of the best. Sayapun berpinsip, lebih baik menjadi ikan lohan di kolam, daripada ikan lohan di lautan.
Seiring berjalannya waktu, saya merasa tidak ada yang buruk dari IPS, namun juga tidak ada yang begitu istimewa. Saya menyesal, kenapa Olimpiade Kebumian saja, yang lebih mengarah ke Geografi, yang diambil untuk mewakili sekolah adalah anak IPA, dan saya mulai kecewa ketika seorang teman (IPA) berkata “Tadi di kelas ada pelajaran Matematika dan ada siswa yang tertidur, gurunya marah-marah, kata beliau kalo mau tidur masuk kelas IPS sana!! Gitu..”, rasanya saya menelan ludah yang berupa kerikil. Namun, Saya selalu semangat setiap mengingat kalimat yang pernah disampaikan oleh guru fisika, Pak Joko, “ Jurusan IPA dan IPS itu sama saja. Masing-masing punya plus dan minus. Untuk yang ingin memilih IPS, maupun jurusan yang lain jangan ragu. Anggota DPR di pemerintahan Indonesia saja, labih dari 50% adalah lulusan IPS.”.
Sebuah sikap diskriminatif ternyata masih ada di zaman yang modern ini. Di sekolah saya, untuk memilih jurusan, disesuaikan dengan minat dan bakat melalui psikotest, bukan karena prestasi atau nilai raport. Tapi ternyata, juga ada sedikit sikap diskriminatif. Namun saya yakin, kebijaksanaan guru-guru di sekolah saya, maupun sekolah lain sangatlah mantap, tidak ada sikap diskriminatif, dan menganggap IPS juga tidak kalah pentingnya untuk bekal masa depan. InsyaAllah, Semoga!
Pelajaran pada jurusan IPS difokuskan pada:
• Geografi: mempelajari tentang kenampakan-kenampakan di bumi.
• Sosiologi: mempelajari tentang hubungan manusia dengan individu atau kelompok di masyarakat.
• Ekonomi: mempelajari tentang kalkulasi-kalkulasi materi.
• Sejarah (juga dipelajari di LP dan IPA, namun spesifikasi di IPS): Mempelajari tentang sesuatau yang pernah terjadi, bersifat unik hanya terjadi sekali, dan berdampak untuk masa kedepannya.
Dari empat poin diatas, bukannya kita tahu bahwa pelajaran-pelajaran tersebut adalah pelajaran yang pasti, dan secara otomatis kita terapkan di kehidupan kita sebagai manusia yang hidup di alam, sebagai zoon politicon, sebagai makhluk yang tidak dapat hidup tanpa materi, dan manusia yang tentu menghargai bangsanya separti kata Bung Karno “jas merah”. Jadi untuk yang selama ini yang mungkin gengsi di IPS, atau meremehkan IPS. Cobalah kita pehatikan pelajaran-pelajaran yang dipelajari didalamnya. Menurut saya pelajaran-pelajaran itu alah pelajaran yang asyik.
Bagi sikap diskriminatif. Membuat saya teringat pada suatu masalah sosial di Amerika. Diskriminasi antara kulit hitam dan kulit putih, ras kulit hitam begitu dikucilkan dan dianggap rendah. Begitu setelah diskriminatif itu dicabut dari permukaan Amerika, ras kulit hitam mulai mengeksplore kemampuannya, dan menunjukkan jati dirinya. Mulai dari Rihanna seorang singer degnan hits Cry, dan Mr. Barack Obama, Presiden AS saat ini. Luar biasa bukan?. Bisa jadi, keterpurukan beberapa siswa-siswi IPS selama ini, karena sikap diskriminasi yang dilakukan orang-orang sekelilingnya selama ini, sehingga bisa jadi mereka tidak memberi kesempatan sedikitpun. Mampukah kita bercermin?.
Keluarga saya, terutama ayah saya awalnya kaget karena dengan sendirinya saya mengambil jurusan IPS padahal beliau sendiri lulusan S1 fak. ekonomi, termasuk tetangga-tetangga di rumah, dan beberapa teman di sekolah. Saya yakin mereka sudah berfikiran buruk dengan IPS selama ini. Lain halnya dengan Pakdhe saya, beliau seorang dosen fakultas ekonomi di salah satu Universitas Negeri di Malang, beliau mendukung saya penuh untuk jurusan ini. Saya tidak boleh goyah, apalagi menyeasal. Sekarang dunia saya adalah IPS, apapun yang terjadi saya harus tetap menjadi yang terbaik di dunia saya. Meskipun bukan best of the best. Sayapun berpinsip, lebih baik menjadi ikan lohan di kolam, daripada ikan lohan di lautan.
Seiring berjalannya waktu, saya merasa tidak ada yang buruk dari IPS, namun juga tidak ada yang begitu istimewa. Saya menyesal, kenapa Olimpiade Kebumian saja, yang lebih mengarah ke Geografi, yang diambil untuk mewakili sekolah adalah anak IPA, dan saya mulai kecewa ketika seorang teman (IPA) berkata “Tadi di kelas ada pelajaran Matematika dan ada siswa yang tertidur, gurunya marah-marah, kata beliau kalo mau tidur masuk kelas IPS sana!! Gitu..”, rasanya saya menelan ludah yang berupa kerikil. Namun, Saya selalu semangat setiap mengingat kalimat yang pernah disampaikan oleh guru fisika, Pak Joko, “ Jurusan IPA dan IPS itu sama saja. Masing-masing punya plus dan minus. Untuk yang ingin memilih IPS, maupun jurusan yang lain jangan ragu. Anggota DPR di pemerintahan Indonesia saja, labih dari 50% adalah lulusan IPS.”.
Sebuah sikap diskriminatif ternyata masih ada di zaman yang modern ini. Di sekolah saya, untuk memilih jurusan, disesuaikan dengan minat dan bakat melalui psikotest, bukan karena prestasi atau nilai raport. Tapi ternyata, juga ada sedikit sikap diskriminatif. Namun saya yakin, kebijaksanaan guru-guru di sekolah saya, maupun sekolah lain sangatlah mantap, tidak ada sikap diskriminatif, dan menganggap IPS juga tidak kalah pentingnya untuk bekal masa depan. InsyaAllah, Semoga!
Pelajaran pada jurusan IPS difokuskan pada:
• Geografi: mempelajari tentang kenampakan-kenampakan di bumi.
• Sosiologi: mempelajari tentang hubungan manusia dengan individu atau kelompok di masyarakat.
• Ekonomi: mempelajari tentang kalkulasi-kalkulasi materi.
• Sejarah (juga dipelajari di LP dan IPA, namun spesifikasi di IPS): Mempelajari tentang sesuatau yang pernah terjadi, bersifat unik hanya terjadi sekali, dan berdampak untuk masa kedepannya.
Dari empat poin diatas, bukannya kita tahu bahwa pelajaran-pelajaran tersebut adalah pelajaran yang pasti, dan secara otomatis kita terapkan di kehidupan kita sebagai manusia yang hidup di alam, sebagai zoon politicon, sebagai makhluk yang tidak dapat hidup tanpa materi, dan manusia yang tentu menghargai bangsanya separti kata Bung Karno “jas merah”. Jadi untuk yang selama ini yang mungkin gengsi di IPS, atau meremehkan IPS. Cobalah kita pehatikan pelajaran-pelajaran yang dipelajari didalamnya. Menurut saya pelajaran-pelajaran itu alah pelajaran yang asyik.
Bagi sikap diskriminatif. Membuat saya teringat pada suatu masalah sosial di Amerika. Diskriminasi antara kulit hitam dan kulit putih, ras kulit hitam begitu dikucilkan dan dianggap rendah. Begitu setelah diskriminatif itu dicabut dari permukaan Amerika, ras kulit hitam mulai mengeksplore kemampuannya, dan menunjukkan jati dirinya. Mulai dari Rihanna seorang singer degnan hits Cry, dan Mr. Barack Obama, Presiden AS saat ini. Luar biasa bukan?. Bisa jadi, keterpurukan beberapa siswa-siswi IPS selama ini, karena sikap diskriminasi yang dilakukan orang-orang sekelilingnya selama ini, sehingga bisa jadi mereka tidak memberi kesempatan sedikitpun. Mampukah kita bercermin?.
Pengalaman ngeMC
Exkul MC di SMA Negeri 1 Purwosari membuat saya tertarik. Karena praktiknya adalah dengan kita terjun langsung ke lapangan, membawakan sebuah acara. Di dunia MC, saya masih bau kencur pengalaman saya cuma berkutat di lingkungan sekolah ; MC HUT sekolah & bubafest, idul adha, seminar sekolah sahabat mata air, halal bihalal kel.besar SMANESA, wisuda kelas XII, penerimaan siswa baru dan ada lagi tapi saya lupa (maklum anak muda, belum tua sudah pikun) dan sedikit acara luar ; protokoler HUT RI di lapangan kecamatan Purwosari, acara ulang tahun teman, family meeting dan pernikahan.
Kesan buruk :
1. Kena semprot komite sekolah, karena saya tidak menyebutkan nama beliau waktu perkenalan struktur kelembagaan sekolah, tapi beliau sendiri datangnya telat. Jadi, ndak masuk susunan acara, saya sendiri kurang teliti.
2. Kena tegur ajudan Bpk. Drs. Edi Paripurna (wakil bupati Pasuruan), karena saya kurang tepat dalam mempersilakan beliau untuk menyampaikan sambutan di HUT sekolah.
3. Ditegur tuan rumah, waktu MC pernikahan, karena pengiring pengantinnya "nyeludur" pulang sebelum do'a penutup, kesalahan pada susunan acara.
Yah, begitulah sedikit pengalaman saya....
Idola saya Choky Sitohang, karena performancenya yang selalu cool, namun tetap bersahaja, mantap!
Kesan buruk :
1. Kena semprot komite sekolah, karena saya tidak menyebutkan nama beliau waktu perkenalan struktur kelembagaan sekolah, tapi beliau sendiri datangnya telat. Jadi, ndak masuk susunan acara, saya sendiri kurang teliti.
2. Kena tegur ajudan Bpk. Drs. Edi Paripurna (wakil bupati Pasuruan), karena saya kurang tepat dalam mempersilakan beliau untuk menyampaikan sambutan di HUT sekolah.
3. Ditegur tuan rumah, waktu MC pernikahan, karena pengiring pengantinnya "nyeludur" pulang sebelum do'a penutup, kesalahan pada susunan acara.
Yah, begitulah sedikit pengalaman saya....
Idola saya Choky Sitohang, karena performancenya yang selalu cool, namun tetap bersahaja, mantap!
Berbunga di Ponorogo
Minggu, 29 Agustus 2010
BERBUNGA DI PONOROGO
Ujung jilbabku yang putih seolah melambai tertiup angin. Mataku terus memandang gunung didepanku yang tepat disebelah timur, sayup – sayup suara koko ayam menyambut semburat keemasan terbitnya sang surya dari balik gunung, “Andi ! smile please!” ‘cekrik’ seru mbak Ratih dengan kamera digitalnya dari kejauhan. “Ah! mbak Ratih akukan belum mandi, jelek tau!” celetukku. “Enggak saying, terlihat cantik kok kalau pakek jilbab” menatapku dan mencubit pipiku hingga memerah. Akupun tergelak meringis merasakannya. “Ayo pulang! Mbantu budhe dirumah, sudah sejam kita dilapangan ini.
Sampai dirumah, sepeda vespa milik pakdhe Jarwo sudah menggema diteras rumah, dan…. Membela jalan perkampungan desa Sumaroto Ponorogo. “ Pak! Hati - hati ! teriak mbak Ratih. Disambut anggukan dan lambaian tangan kiri pakdhe Jarwo. Dari jarak sekitar 30 langkah dari kami. “Ini, budhe dibantu bersihin halaman?!” mengulurka sapu lidi padaku. “Inggeh budhe” jawabku. Dan kumulai membersihkan halaman seluas 8X4 m, yang ditumbuhi tumbuh – tumbuhan paku, ada anggrek bulan dan gelombang cinta. “Nduk, krawonan dibelakang kamu kasih parutan kelapa !”. “Nggih, ibu mau kemana ?”, “ibu mau ngambil mixer yang kemarin dipinjam bu Narsih”.
Tepat pukul 8, ruamah sudah bersih. Aku mbak Ratih, dan budhe siap dimja makan. “Ayo! ayo Sarapan, sudah mandi semua toh?” “sampun bu”, “tadi, pakdhe sarapan apa sebelum beranhgkat mengajar ke SMPN 2 Ponorogo, budhe?” tanyaku. “walah pakdhemu itu kayak wong londo tiap pagi sarapan roti sama selai”.
Setelah sarapan mereka saling bercengkerama mengahngatkan suasana diruang tengah seiring matahari yang menghangatkan tanah Samaroto.
Sejak kemarin tiba disini aku punya kebiasaan baru, yaitu melamun. Entah, karena sepucuk surat yang kuterima itu, aku seperti orang sakit jiwa saat sendiri. Kadang tersenyum, cemas, rindu , dan sekarang aku menangis untuk kesekian kalinya aku menatap kalimat demi kalimat dalam surat ini. Dikamar tamu ukuran 6X5m ini aku menjerit dalam hati “ya.. Rabbi untuk yang pertama aku merasakan hal ini, rasa ini semakin mencekikku, padahal disini aku ingin melupakkan sejenak beban fikiranku”, lalu aku berdiri dan mengambil air wudhu. Mbak Ratih seolah memperhatikanku dalam langkahku ke Musholla. Seusia sholat duha, aku menangis sepuas – puasnya, sajadah merah itupun basah, karena tangis sujudku. Biarlah perasaan ini memuai ataupun mengempis dengan sendirinya. Kuukir dengan senyum dan kututup dengan bedak mataku yang sembab dan hidungku yang merah. Kuhampiri budhe dan mbak Ratih diruang tengah.
“Kamu meamg sama seperti ayahmu, sholat sunnahpun engga ditinggalkan” kata budhe dengan menyuruhku duduk disampingnya, dan aku hanya tersenyum. “Di, nanti jam 1 kita ke lapangan samping balai desa ya! Lihat Reog Ponorogo!” ajak mbak Ratih. Akupun terlonjak dab semburat rasa penasaran menghinggapi wajahku “Ok! Aku mau banget!”.
Ba’da dzhuhur, kami berangkat, sedangkan budhe tidak ikut. Sesampainya disana “Libur sampai kapan Di? Dan udah daftar kemana ?” “Hari senin,4 mei 2009 ada pengumuman mbak, InsyaAllah di UGM, jurusan Hukum, mohon doanya ya mbak, mbak sendiri gimana kuliahnya ?” “masuk Semester 8 Di, bentar dan sebentar lagi pusing nyusun skripsi” “ ini nih! Yang patut dibanggakan dan lestarikan. Di Pasuruan aku pernah sekali nonton Reog, itupun waktu masih TK waktu ada selamatan desa. Maba critain dong asal mula kesenian budaya Reog Ponorogo ini!” tanyaku dengan perasaan ngeri karena pertunjukan Reog. “Ok! Sebenarnya ada 5 versi cerita yang berkembang dimasyarakat, tapi yang paling terkenal adalah pada abad ke 15 tentang bentuk pemberontakan sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Bhre Kertabumi. Raja majapahit terakhir yang korup dan banyak dan banyak dipengaruhi kekuasaan rekan – rekan Cinanya yang tak bertanggung jawab yang dilambangkan bulu kipas merak raksasa sedangkan kepalanya singa barong adalah simbolis dari raja Kertabumi sendiri. Dan warog yang menjadi yang berada dibalik topeng badut merah menjadi symbol untuk Kki Ageng Kutu yang berjunag sendiri, gitu..”. “Oh jadi Ki Ageng Kutu sengaja membuat dan mempulerkan kesenian yang kaya hal mistik ini untuk menyindir Raja Kertabumi yang korup itu….”,”seratus buat kamu!” teriak mbak ratih, dan penontonpun menoleh ,karena merasa terganggu oleh teriakan mbak Ratih. Balutan kerudung merah mudaku dan jilbab putih mba Ratih yang terkena sinar matahari seolah menyilaukan mata mereka, sehingga merka memalingkan mata dan kembali melihat pertunjukan. Pertunjukan selesai dan kamipun pulang.
Sampai di rumah aku tak sengaja mendengar percakapan budhe dan pakdhe yang baru pulang mengajar “sejak Andi kesini pak,tetangga pada ngoceh semua, katanya wajah Andi yang pualam dan dagunya yang lancip itu,bikin mereka gemes, malah bu Nasrih bilang, Andi mau dijadiin menantu, katanya kaya aktris Chaty Sharon”,” si ibu ini bisa saja” jawab pakdhe ringan “ Assalamua’alaikum” salam kami bersama . “Wa’alaikumussalam” sambut pakdhe dan budhe. Aku dan mbak Ratih beranjak masuk. Berwudhu dan bersholat ashar berjamaah, kemudian kami bersih – bersih rumah lalu mandi.
Waktu menunjukan pukul 16.00 dan aku menggapai laptop berwarna merah, warna favoriteku. Jari – jarikupun mulai menari di atas keryboard, seluruh pikiranku sejak siang tadi kucurahkan dalam tulisan.
Peradaban, kesenian yang tak ternilai. Yang diakronis semakin terkikis.
Kritis mendekat nokta merah. Sangat terjamah tangan. Namun tiada terenyuh
Reog Ponorogo………….Adalah karya dan harta kita mengapa kita tak acuh
Tak inginkah kita menjadi hegemi. Hidup bukanlah anarki
Tak terhitung isyarat mereka. Namun tetap ironis. Tiada yang bertindak
Ilahi tunjukkan ilham khalaikmu. Maka kami isbat milik pertiwi
Kusailah, cinta dan bnaggakan. Pada bani kita di dunia
Hanya kita Laskar generasi muda. Yang menjaga legalitasasinya....
Hatiku agaknya sedikit melupakan kak Abdi. Tapi……,rasanya ingin sekali aku membaca surat itu lagi
Sabtu, 26 April 2009
Dear, Anindi Zakeiyah
Zamrud hatiku
Assalamu’alainkum Wr.Wb
Tak lepas hanya karena Allah aku memutuskan untuk menulis secarik surat ini untukmu…
Sungguh harambagiku bagiku untuk selalu menikmati wajahmu selama ini…….
Namun ,tak kuasa aku membendungnya
Suara salamu yang acap kali menyapaku
Menggelamkanku dalam bulir – bulir kasih
Simpul manis senymmu mampu merubah bentengku
Keras kepalaku yang acuh tak semua tema perempuan disekelilingku…
Meski taksering kita bertemu, namun sejak awal kita bertemu, dan mata kita beradu, disitu.......
Butiran air firdaus menyirami hatiku.
Hingga saat ini, benih cinta telah tumbuh berakar dan berkuncup. Namun aku hanya bisa berharap agar kuncup – kuncup itu dapat berbunga ….
Aku hanya bisa memohon dengan sangat kepada Allah agar hatimu terbuka untukku. Anna Ukhibbu Ilaika….
Wassalamualaikum Wr.Wb
Yang selalu merindukanmu karena Allah
Abdillah
Genangan air matapun mulai muncul, belum sempat menetes mbak Ratih masuk dalam kamarku dan duduk disampingku. Rupanya selama ini dia sudah tau hal apa yang aku pendam dan enggan untuk kuceritakan padanya. Akupun menyerahkan surat itu pada mbak Ratih dengan buliran air mata yang tak tertahan dan wajah yang tak berani ku angkat. Setelah 1 menit mbak Ratih melayangkan pertanyaan “ Kamu sayang sama dia ?” dengan terisak aku angkat bicara “ Aku takut denga pantangan agama dan orang tuaku”. “ Aku tau sayang, tapi usiamu sudah 18 th, masa dewasa awal, aku rasa Om dan tante tidak akan mencegahmu, asalkan kalian ta’aruf”, “ tapi…” sahutku ragu. “Abdillah, bukannya putera kepala sekolahmu yang pernah kamu ceritakan 6 bulan yang lalu lewat telfonkan?”
“ Ya!, dia terlalu baik untukku , lantunan taubatnya mampu mengetrakan hatiku. Guratan wajahnya adalah ciptaan Allah terindah yang pernah diperlihatkan-Nya padaku. Perkataan dan perbuatannyapun hampir selalu terjaga oleh malaikat Raqib dan Atid. “ Telpon sekarang! Katakana padanya! Kalau memang dia serius, dia harus menemuimu besok jumat, pukul 8 di Telaga Ngebel”, “tapi ………. Minggu – minggu dia sibuk mengurus perpindahnya buat ngambil magister di King Saud University”. “Terserah!?” jawab mbak Ratih menantangku. Akhirnya aku hanya mengirim SMS aku tak kuasa jika harus mendengar suaranya, meskipun lewat ponsel.
Hari jumat, usai subuh kulantunkan surat Al-Waqiah samar – samar, ku buka jendela kamar. Semalam kuingat tepatnya 2/3 waktu malam ketika aku bersujud pada Allah dan tahajjudku. Malaikat mikail menurunkan air hujan di tanah sumaroto, semerbak wangi tanha menyambutku dengan sangat khas. Dari jauh ku dengar sayup – sayup lantunan tadarus anak – anak kecil “Subhanallah ...” bisikku. Aku keluar dari kamar dan memulai rutinitas pagiku, membantu budhe bersih – bersih rumah dan halaman. Sedangkan mba Ratih, ia sudah berkutat dengan bumbu dapur bersama budhe. Tepat pukul 7 aku sudah siap dengan blouse dan kerudung merah favorit ku. Aku dan mbak ratih berangkat ke Telaga Ngebel yang berjarak 10m dari Desa Sumoroto dengan motor automatiq milik mbak Ratih. Kami isin pada budhe dan sekedar refresing kesana.
Sampai disana kami berjalan – jalan disekitar telaga. Untuk pertama kalinya aku kesan pemandangan alam yang indah. “Di Pasuruan jarang – jarang aku menikmati tempat seperti ini, selain di danau Rono “ ucapku dalam hati.
“ Di, hari ini kamu tampil lebih cantik dari biasanya? Hemh aku jadi iri” goda mbak Ratih. “Ah, Mbak..biasa aja jangan lebai dech !” “jangan khawatir, jangan takut dia pasti datang, dan kamu harus bersikap tenang ,OK?!”. “Ko kayak prosesi lamaran sih?”. “ Ya emang si Abdi ngelamr kamu lewat mbak.” Suasanapun semakin hangat karena gelak tawa kami. 15 menit menunggu, tepat pukul 8.00 sebuah mobil audy mewah menyusup diantara keramain lokasi parker Telaga Ngebel. Terlihat pengemudinya turun dengan style pria metropolis. Berbadan tega tinggi kira – kira 180cm….
Kemudian menghilang. Aku yakin, mobil itu adalah yang biasa dipakai ka’ Abdi untuk mengantar dan menjemput pak Mustofa kep. Sekolahku
“Assalamu’alaikum “ salam seorang pria dengan begitu lembutnya dibelakangku.”waalaikumssalam Ka’ Abdi??!” dan cesss..........., mata kami saling memandang seolah angin adam menerap wajahku, hatikupun bergetar tak tertahan, “Kak Abdi, kenalkan dia kakakku” merekapun saling memperkenalkan nama masing – masing dengan hanya menelangkupkan tangan.
Aku terdian 1000 bahasa dan tertunduk, dapat kurasakan kalau wajahku mulai memerah.
“Siapapun dia.... dia dapat menggetarkan hatimu dan dapat menggila karenanya
Seperti kisah cinta Laila-Majnun. Tak cukup bahagia jika melihatnya tersenyum
Karena orang lain. Tapi kaupun akan melakukan segala cara untuk mendapatkan
Cinta darinya meski sulit. Namun caramu itu bukan cara bodoh. Tapi......
Cara yang akan membuatmu diperhatikan, serta mendapat 1 dari belahan hatinya
Karena Allah hanya akn memberikan cinta sejati padamu dngan seorang saja.
Yang memang dikirimkan untuk menjadi halal bagimu
Memisahkan kalian melalui malaikat izrail…….”
Kalimat – kalimat itu keluar dari lisan mbak Ratih begitu puitis dengan berjalan mengelilingi kami.
“Anindi, Zamrud hatiku……ku mohon! Maukah kau meneriam cintaku?” Kak Abdi mulai bicara dengan posisi lutu kana menyentuh tanah, dan kaki lainnya tegak terliapt. Ia begitu yakin menatap wajahku, namun mataku selalu mencoba mencari objek untuk dipandang, selain membalas pandangannya.
“Tolong Kak jangan demikian?!, aku mohon berdirilah?!” ka’ Abdipun berdiri. “KakAbdi Anna Uhibbuka ……..” kataku menatap sekials wajahnya. Guratan senyum kebahgian sontak terpancar dari wajahnya, dan spintan tangannya berada didekat bahuku, seperti hendak memelukku. Dan……. “eits…!eits….! kalian belum halal! Gak boleh itu !” suara yg mengagetkanku. Ternyata sosok cantik bergamis angun telah berdiri dibelakangku, tepat disamping mbak Ratih, dia adalah bu Mustofa. Mbak Ratih tertawa puas melihat wajahku yang tampak malu “ Kalian Ta’aruf dulu, ntar kalo udah ijab qobul, baru boleh pelukan, seharian juga gak pa – pa” ujar mbak Ratih yang tetap dengan tawanya yang tertahan.
====================selesai====================
By: Dian W
Ujung jilbabku yang putih seolah melambai tertiup angin. Mataku terus memandang gunung didepanku yang tepat disebelah timur, sayup – sayup suara koko ayam menyambut semburat keemasan terbitnya sang surya dari balik gunung, “Andi ! smile please!” ‘cekrik’ seru mbak Ratih dengan kamera digitalnya dari kejauhan. “Ah! mbak Ratih akukan belum mandi, jelek tau!” celetukku. “Enggak saying, terlihat cantik kok kalau pakek jilbab” menatapku dan mencubit pipiku hingga memerah. Akupun tergelak meringis merasakannya. “Ayo pulang! Mbantu budhe dirumah, sudah sejam kita dilapangan ini.
Sampai dirumah, sepeda vespa milik pakdhe Jarwo sudah menggema diteras rumah, dan…. Membela jalan perkampungan desa Sumaroto Ponorogo. “ Pak! Hati - hati ! teriak mbak Ratih. Disambut anggukan dan lambaian tangan kiri pakdhe Jarwo. Dari jarak sekitar 30 langkah dari kami. “Ini, budhe dibantu bersihin halaman?!” mengulurka sapu lidi padaku. “Inggeh budhe” jawabku. Dan kumulai membersihkan halaman seluas 8X4 m, yang ditumbuhi tumbuh – tumbuhan paku, ada anggrek bulan dan gelombang cinta. “Nduk, krawonan dibelakang kamu kasih parutan kelapa !”. “Nggih, ibu mau kemana ?”, “ibu mau ngambil mixer yang kemarin dipinjam bu Narsih”.
Tepat pukul 8, ruamah sudah bersih. Aku mbak Ratih, dan budhe siap dimja makan. “Ayo! ayo Sarapan, sudah mandi semua toh?” “sampun bu”, “tadi, pakdhe sarapan apa sebelum beranhgkat mengajar ke SMPN 2 Ponorogo, budhe?” tanyaku. “walah pakdhemu itu kayak wong londo tiap pagi sarapan roti sama selai”.
Setelah sarapan mereka saling bercengkerama mengahngatkan suasana diruang tengah seiring matahari yang menghangatkan tanah Samaroto.
Sejak kemarin tiba disini aku punya kebiasaan baru, yaitu melamun. Entah, karena sepucuk surat yang kuterima itu, aku seperti orang sakit jiwa saat sendiri. Kadang tersenyum, cemas, rindu , dan sekarang aku menangis untuk kesekian kalinya aku menatap kalimat demi kalimat dalam surat ini. Dikamar tamu ukuran 6X5m ini aku menjerit dalam hati “ya.. Rabbi untuk yang pertama aku merasakan hal ini, rasa ini semakin mencekikku, padahal disini aku ingin melupakkan sejenak beban fikiranku”, lalu aku berdiri dan mengambil air wudhu. Mbak Ratih seolah memperhatikanku dalam langkahku ke Musholla. Seusia sholat duha, aku menangis sepuas – puasnya, sajadah merah itupun basah, karena tangis sujudku. Biarlah perasaan ini memuai ataupun mengempis dengan sendirinya. Kuukir dengan senyum dan kututup dengan bedak mataku yang sembab dan hidungku yang merah. Kuhampiri budhe dan mbak Ratih diruang tengah.
“Kamu meamg sama seperti ayahmu, sholat sunnahpun engga ditinggalkan” kata budhe dengan menyuruhku duduk disampingnya, dan aku hanya tersenyum. “Di, nanti jam 1 kita ke lapangan samping balai desa ya! Lihat Reog Ponorogo!” ajak mbak Ratih. Akupun terlonjak dab semburat rasa penasaran menghinggapi wajahku “Ok! Aku mau banget!”.
Ba’da dzhuhur, kami berangkat, sedangkan budhe tidak ikut. Sesampainya disana “Libur sampai kapan Di? Dan udah daftar kemana ?” “Hari senin,4 mei 2009 ada pengumuman mbak, InsyaAllah di UGM, jurusan Hukum, mohon doanya ya mbak, mbak sendiri gimana kuliahnya ?” “masuk Semester 8 Di, bentar dan sebentar lagi pusing nyusun skripsi” “ ini nih! Yang patut dibanggakan dan lestarikan. Di Pasuruan aku pernah sekali nonton Reog, itupun waktu masih TK waktu ada selamatan desa. Maba critain dong asal mula kesenian budaya Reog Ponorogo ini!” tanyaku dengan perasaan ngeri karena pertunjukan Reog. “Ok! Sebenarnya ada 5 versi cerita yang berkembang dimasyarakat, tapi yang paling terkenal adalah pada abad ke 15 tentang bentuk pemberontakan sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Bhre Kertabumi. Raja majapahit terakhir yang korup dan banyak dan banyak dipengaruhi kekuasaan rekan – rekan Cinanya yang tak bertanggung jawab yang dilambangkan bulu kipas merak raksasa sedangkan kepalanya singa barong adalah simbolis dari raja Kertabumi sendiri. Dan warog yang menjadi yang berada dibalik topeng badut merah menjadi symbol untuk Kki Ageng Kutu yang berjunag sendiri, gitu..”. “Oh jadi Ki Ageng Kutu sengaja membuat dan mempulerkan kesenian yang kaya hal mistik ini untuk menyindir Raja Kertabumi yang korup itu….”,”seratus buat kamu!” teriak mbak ratih, dan penontonpun menoleh ,karena merasa terganggu oleh teriakan mbak Ratih. Balutan kerudung merah mudaku dan jilbab putih mba Ratih yang terkena sinar matahari seolah menyilaukan mata mereka, sehingga merka memalingkan mata dan kembali melihat pertunjukan. Pertunjukan selesai dan kamipun pulang.
Sampai di rumah aku tak sengaja mendengar percakapan budhe dan pakdhe yang baru pulang mengajar “sejak Andi kesini pak,tetangga pada ngoceh semua, katanya wajah Andi yang pualam dan dagunya yang lancip itu,bikin mereka gemes, malah bu Nasrih bilang, Andi mau dijadiin menantu, katanya kaya aktris Chaty Sharon”,” si ibu ini bisa saja” jawab pakdhe ringan “ Assalamua’alaikum” salam kami bersama . “Wa’alaikumussalam” sambut pakdhe dan budhe. Aku dan mbak Ratih beranjak masuk. Berwudhu dan bersholat ashar berjamaah, kemudian kami bersih – bersih rumah lalu mandi.
Waktu menunjukan pukul 16.00 dan aku menggapai laptop berwarna merah, warna favoriteku. Jari – jarikupun mulai menari di atas keryboard, seluruh pikiranku sejak siang tadi kucurahkan dalam tulisan.
Peradaban, kesenian yang tak ternilai. Yang diakronis semakin terkikis.
Kritis mendekat nokta merah. Sangat terjamah tangan. Namun tiada terenyuh
Reog Ponorogo………….Adalah karya dan harta kita mengapa kita tak acuh
Tak inginkah kita menjadi hegemi. Hidup bukanlah anarki
Tak terhitung isyarat mereka. Namun tetap ironis. Tiada yang bertindak
Ilahi tunjukkan ilham khalaikmu. Maka kami isbat milik pertiwi
Kusailah, cinta dan bnaggakan. Pada bani kita di dunia
Hanya kita Laskar generasi muda. Yang menjaga legalitasasinya....
Hatiku agaknya sedikit melupakan kak Abdi. Tapi……,rasanya ingin sekali aku membaca surat itu lagi
Sabtu, 26 April 2009
Dear, Anindi Zakeiyah
Zamrud hatiku
Assalamu’alainkum Wr.Wb
Tak lepas hanya karena Allah aku memutuskan untuk menulis secarik surat ini untukmu…
Sungguh harambagiku bagiku untuk selalu menikmati wajahmu selama ini…….
Namun ,tak kuasa aku membendungnya
Suara salamu yang acap kali menyapaku
Menggelamkanku dalam bulir – bulir kasih
Simpul manis senymmu mampu merubah bentengku
Keras kepalaku yang acuh tak semua tema perempuan disekelilingku…
Meski taksering kita bertemu, namun sejak awal kita bertemu, dan mata kita beradu, disitu.......
Butiran air firdaus menyirami hatiku.
Hingga saat ini, benih cinta telah tumbuh berakar dan berkuncup. Namun aku hanya bisa berharap agar kuncup – kuncup itu dapat berbunga ….
Aku hanya bisa memohon dengan sangat kepada Allah agar hatimu terbuka untukku. Anna Ukhibbu Ilaika….
Wassalamualaikum Wr.Wb
Yang selalu merindukanmu karena Allah
Abdillah
Genangan air matapun mulai muncul, belum sempat menetes mbak Ratih masuk dalam kamarku dan duduk disampingku. Rupanya selama ini dia sudah tau hal apa yang aku pendam dan enggan untuk kuceritakan padanya. Akupun menyerahkan surat itu pada mbak Ratih dengan buliran air mata yang tak tertahan dan wajah yang tak berani ku angkat. Setelah 1 menit mbak Ratih melayangkan pertanyaan “ Kamu sayang sama dia ?” dengan terisak aku angkat bicara “ Aku takut denga pantangan agama dan orang tuaku”. “ Aku tau sayang, tapi usiamu sudah 18 th, masa dewasa awal, aku rasa Om dan tante tidak akan mencegahmu, asalkan kalian ta’aruf”, “ tapi…” sahutku ragu. “Abdillah, bukannya putera kepala sekolahmu yang pernah kamu ceritakan 6 bulan yang lalu lewat telfonkan?”
“ Ya!, dia terlalu baik untukku , lantunan taubatnya mampu mengetrakan hatiku. Guratan wajahnya adalah ciptaan Allah terindah yang pernah diperlihatkan-Nya padaku. Perkataan dan perbuatannyapun hampir selalu terjaga oleh malaikat Raqib dan Atid. “ Telpon sekarang! Katakana padanya! Kalau memang dia serius, dia harus menemuimu besok jumat, pukul 8 di Telaga Ngebel”, “tapi ………. Minggu – minggu dia sibuk mengurus perpindahnya buat ngambil magister di King Saud University”. “Terserah!?” jawab mbak Ratih menantangku. Akhirnya aku hanya mengirim SMS aku tak kuasa jika harus mendengar suaranya, meskipun lewat ponsel.
Hari jumat, usai subuh kulantunkan surat Al-Waqiah samar – samar, ku buka jendela kamar. Semalam kuingat tepatnya 2/3 waktu malam ketika aku bersujud pada Allah dan tahajjudku. Malaikat mikail menurunkan air hujan di tanah sumaroto, semerbak wangi tanha menyambutku dengan sangat khas. Dari jauh ku dengar sayup – sayup lantunan tadarus anak – anak kecil “Subhanallah ...” bisikku. Aku keluar dari kamar dan memulai rutinitas pagiku, membantu budhe bersih – bersih rumah dan halaman. Sedangkan mba Ratih, ia sudah berkutat dengan bumbu dapur bersama budhe. Tepat pukul 7 aku sudah siap dengan blouse dan kerudung merah favorit ku. Aku dan mbak ratih berangkat ke Telaga Ngebel yang berjarak 10m dari Desa Sumoroto dengan motor automatiq milik mbak Ratih. Kami isin pada budhe dan sekedar refresing kesana.
Sampai disana kami berjalan – jalan disekitar telaga. Untuk pertama kalinya aku kesan pemandangan alam yang indah. “Di Pasuruan jarang – jarang aku menikmati tempat seperti ini, selain di danau Rono “ ucapku dalam hati.
“ Di, hari ini kamu tampil lebih cantik dari biasanya? Hemh aku jadi iri” goda mbak Ratih. “Ah, Mbak..biasa aja jangan lebai dech !” “jangan khawatir, jangan takut dia pasti datang, dan kamu harus bersikap tenang ,OK?!”. “Ko kayak prosesi lamaran sih?”. “ Ya emang si Abdi ngelamr kamu lewat mbak.” Suasanapun semakin hangat karena gelak tawa kami. 15 menit menunggu, tepat pukul 8.00 sebuah mobil audy mewah menyusup diantara keramain lokasi parker Telaga Ngebel. Terlihat pengemudinya turun dengan style pria metropolis. Berbadan tega tinggi kira – kira 180cm….
Kemudian menghilang. Aku yakin, mobil itu adalah yang biasa dipakai ka’ Abdi untuk mengantar dan menjemput pak Mustofa kep. Sekolahku
“Assalamu’alaikum “ salam seorang pria dengan begitu lembutnya dibelakangku.”waalaikumssalam Ka’ Abdi??!” dan cesss..........., mata kami saling memandang seolah angin adam menerap wajahku, hatikupun bergetar tak tertahan, “Kak Abdi, kenalkan dia kakakku” merekapun saling memperkenalkan nama masing – masing dengan hanya menelangkupkan tangan.
Aku terdian 1000 bahasa dan tertunduk, dapat kurasakan kalau wajahku mulai memerah.
“Siapapun dia.... dia dapat menggetarkan hatimu dan dapat menggila karenanya
Seperti kisah cinta Laila-Majnun. Tak cukup bahagia jika melihatnya tersenyum
Karena orang lain. Tapi kaupun akan melakukan segala cara untuk mendapatkan
Cinta darinya meski sulit. Namun caramu itu bukan cara bodoh. Tapi......
Cara yang akan membuatmu diperhatikan, serta mendapat 1 dari belahan hatinya
Karena Allah hanya akn memberikan cinta sejati padamu dngan seorang saja.
Yang memang dikirimkan untuk menjadi halal bagimu
Memisahkan kalian melalui malaikat izrail…….”
Kalimat – kalimat itu keluar dari lisan mbak Ratih begitu puitis dengan berjalan mengelilingi kami.
“Anindi, Zamrud hatiku……ku mohon! Maukah kau meneriam cintaku?” Kak Abdi mulai bicara dengan posisi lutu kana menyentuh tanah, dan kaki lainnya tegak terliapt. Ia begitu yakin menatap wajahku, namun mataku selalu mencoba mencari objek untuk dipandang, selain membalas pandangannya.
“Tolong Kak jangan demikian?!, aku mohon berdirilah?!” ka’ Abdipun berdiri. “KakAbdi Anna Uhibbuka ……..” kataku menatap sekials wajahnya. Guratan senyum kebahgian sontak terpancar dari wajahnya, dan spintan tangannya berada didekat bahuku, seperti hendak memelukku. Dan……. “eits…!eits….! kalian belum halal! Gak boleh itu !” suara yg mengagetkanku. Ternyata sosok cantik bergamis angun telah berdiri dibelakangku, tepat disamping mbak Ratih, dia adalah bu Mustofa. Mbak Ratih tertawa puas melihat wajahku yang tampak malu “ Kalian Ta’aruf dulu, ntar kalo udah ijab qobul, baru boleh pelukan, seharian juga gak pa – pa” ujar mbak Ratih yang tetap dengan tawanya yang tertahan.
====================selesai====================
By: Dian W
Tips Menyusun Cerpen
Senin, 21 Juni 2010
ini adlh sdkit tips dariku soal gimana sih bt cerpen..., bukan mw so' menggurui, tp yah, cm pgn berbagi jaah...
The first, tentuin tujuannya, cz kan g mgkin qt nulis, tp g ad manf'tnya bt dri qt n orang laen. Misal; aq prnah pgn nulis cerpen, n mncul dlm otakq "dicerpenq ini pko'nya aq hrs nyantumin tntg ksah ta'aruf, n tntg asal mula reog ponorogo", nah itu deh yg q jd'in tujuan dr cerpenq wktu itu...
2nd, mulai tuangkan kata2 yg mncul dlm pkranmu, jgn biarin kata2 emasmu itu trbuang sia2, tp te2p dlm konteks tujuan utamamu n sprti ciri2 cerpen "Hbis dlm sekali duduk, mksdny, wktu bt baca n mmhami isi cerpen tuh sktar 10-30 menit".....
the third, diskripsikan dg tulisan mwpun dg angka2 smw yg ada dlm pkiranmu, sbisa mgkin agr pembca jg mampu mmbyangkn n mngkuti alur critamu......
4th, Qm hrs kasih klimaks yg betul2 mmpu menyobek hati pembaca, misal ; klw kisahny sedih, ambl klimaks yg bner2 merintih n menangis..., tp te2p mngkuti ciri2 cerpan "tdk dpt merubah nasib tokoh dlm cerpen tsbt" n dlm alurny yaitu "perkenalan-identifikasi mslah-klimaks(konflik)-penyelesaian-ending"
the fiveth, Qm bs ngasih happy ending, sad ending, atw nggantung, stwq...., ending yg gantung malah bkinn pnasaran pmbca bt lbih tw gmn kisah selnjtny, tp sring kali mlah bkin sebel pembaca alias GJ....
n finally, Bru deh tuh tentuin jdlnya....., cz mnrtq plg asyik tuh nentuin jdlnya blkngan aja....., misal; jdlq dr cerpen yg dlgkah prtma td adlh "Berbunga di Ponorogo".......
Yeah like that.........
The first, tentuin tujuannya, cz kan g mgkin qt nulis, tp g ad manf'tnya bt dri qt n orang laen. Misal; aq prnah pgn nulis cerpen, n mncul dlm otakq "dicerpenq ini pko'nya aq hrs nyantumin tntg ksah ta'aruf, n tntg asal mula reog ponorogo", nah itu deh yg q jd'in tujuan dr cerpenq wktu itu...
2nd, mulai tuangkan kata2 yg mncul dlm pkranmu, jgn biarin kata2 emasmu itu trbuang sia2, tp te2p dlm konteks tujuan utamamu n sprti ciri2 cerpen "Hbis dlm sekali duduk, mksdny, wktu bt baca n mmhami isi cerpen tuh sktar 10-30 menit".....
the third, diskripsikan dg tulisan mwpun dg angka2 smw yg ada dlm pkiranmu, sbisa mgkin agr pembca jg mampu mmbyangkn n mngkuti alur critamu......
4th, Qm hrs kasih klimaks yg betul2 mmpu menyobek hati pembaca, misal ; klw kisahny sedih, ambl klimaks yg bner2 merintih n menangis..., tp te2p mngkuti ciri2 cerpan "tdk dpt merubah nasib tokoh dlm cerpen tsbt" n dlm alurny yaitu "perkenalan-identifikasi mslah-klimaks(konflik)-penyelesaian-ending"
the fiveth, Qm bs ngasih happy ending, sad ending, atw nggantung, stwq...., ending yg gantung malah bkinn pnasaran pmbca bt lbih tw gmn kisah selnjtny, tp sring kali mlah bkin sebel pembaca alias GJ....
n finally, Bru deh tuh tentuin jdlnya....., cz mnrtq plg asyik tuh nentuin jdlnya blkngan aja....., misal; jdlq dr cerpen yg dlgkah prtma td adlh "Berbunga di Ponorogo".......
Yeah like that.........
Hidup di Dunia
Tau gak sih...., sbenrnya ad 5 prkra dlm khdpan, khussnya bt kaum muslim, dan antara yg satu dg lainnya slg brsimbiosis, lw ada racun kan psti ada pnwarnya, nah..... ini nih jelasnya...
1. Dunia adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan zuhud adlh penawarnya
2. Harta adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan zakat adlh panawarnya
3. Berbicara adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan dzikir kpd Allah SWT adlh penawarnya
4. Umur serta kslruhannya adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan taat kpd Allah SWT adlh penawarnya
5. Tahun dan kslruhannya adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan bulan Ramadhan adlh penawarnya.
Tuh kan...., itu adlh 5 prinsip penting yg bs mmbuat kita tenang dg sgla kburukan2 manusia slma di dunia....
ternyata Allah memang Maha Sempurna, selalu menyediakan penawar untuk semua racun di dunia...... It's real
1. Dunia adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan zuhud adlh penawarnya
2. Harta adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan zakat adlh panawarnya
3. Berbicara adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan dzikir kpd Allah SWT adlh penawarnya
4. Umur serta kslruhannya adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan taat kpd Allah SWT adlh penawarnya
5. Tahun dan kslruhannya adlh sebagai racun yg mematikan, sedangkan bulan Ramadhan adlh penawarnya.
Tuh kan...., itu adlh 5 prinsip penting yg bs mmbuat kita tenang dg sgla kburukan2 manusia slma di dunia....
ternyata Allah memang Maha Sempurna, selalu menyediakan penawar untuk semua racun di dunia...... It's real
abaot me
This is me, This is real?!!!!
my full name is Dian Wulandari, my nick name is Dian
Skarang Aq mc du2k dibangku SMA, actually in SMANESA's my beloved school. Aq ikut kegiatan Pskibra [Bendhara 1], n Master of Ceremony, than Revolusi menuju sekolah hijau (Re.S.H) [Tim inti].
aq anak pertma dlm 2 brsaudra dr pasangan Ayah dan Ibuku (ya-iyalah), yg anniversary wedding marriednya 31 Mei...........
my full name is Dian Wulandari, my nick name is Dian
Skarang Aq mc du2k dibangku SMA, actually in SMANESA's my beloved school. Aq ikut kegiatan Pskibra [Bendhara 1], n Master of Ceremony, than Revolusi menuju sekolah hijau (Re.S.H) [Tim inti].
aq anak pertma dlm 2 brsaudra dr pasangan Ayah dan Ibuku (ya-iyalah), yg anniversary wedding marriednya 31 Mei...........
Langganan:
Postingan (Atom)