BERBUNGA DI PONOROGO
Ujung jilbabku yang putih seolah melambai tertiup angin. Mataku terus memandang gunung didepanku yang tepat disebelah timur, sayup – sayup suara koko ayam menyambut semburat keemasan terbitnya sang surya dari balik gunung, “Andi ! smile please!” ‘cekrik’ seru mbak Ratih dengan kamera digitalnya dari kejauhan. “Ah! mbak Ratih akukan belum mandi, jelek tau!” celetukku. “Enggak saying, terlihat cantik kok kalau pakek jilbab” menatapku dan mencubit pipiku hingga memerah. Akupun tergelak meringis merasakannya. “Ayo pulang! Mbantu budhe dirumah, sudah sejam kita dilapangan ini.
Sampai dirumah, sepeda vespa milik pakdhe Jarwo sudah menggema diteras rumah, dan…. Membela jalan perkampungan desa Sumaroto Ponorogo. “ Pak! Hati - hati ! teriak mbak Ratih. Disambut anggukan dan lambaian tangan kiri pakdhe Jarwo. Dari jarak sekitar 30 langkah dari kami. “Ini, budhe dibantu bersihin halaman?!” mengulurka sapu lidi padaku. “Inggeh budhe” jawabku. Dan kumulai membersihkan halaman seluas 8X4 m, yang ditumbuhi tumbuh – tumbuhan paku, ada anggrek bulan dan gelombang cinta. “Nduk, krawonan dibelakang kamu kasih parutan kelapa !”. “Nggih, ibu mau kemana ?”, “ibu mau ngambil mixer yang kemarin dipinjam bu Narsih”.
Tepat pukul 8, ruamah sudah bersih. Aku mbak Ratih, dan budhe siap dimja makan. “Ayo! ayo Sarapan, sudah mandi semua toh?” “sampun bu”, “tadi, pakdhe sarapan apa sebelum beranhgkat mengajar ke SMPN 2 Ponorogo, budhe?” tanyaku. “walah pakdhemu itu kayak wong londo tiap pagi sarapan roti sama selai”.
Setelah sarapan mereka saling bercengkerama mengahngatkan suasana diruang tengah seiring matahari yang menghangatkan tanah Samaroto.
Sejak kemarin tiba disini aku punya kebiasaan baru, yaitu melamun. Entah, karena sepucuk surat yang kuterima itu, aku seperti orang sakit jiwa saat sendiri. Kadang tersenyum, cemas, rindu , dan sekarang aku menangis untuk kesekian kalinya aku menatap kalimat demi kalimat dalam surat ini. Dikamar tamu ukuran 6X5m ini aku menjerit dalam hati “ya.. Rabbi untuk yang pertama aku merasakan hal ini, rasa ini semakin mencekikku, padahal disini aku ingin melupakkan sejenak beban fikiranku”, lalu aku berdiri dan mengambil air wudhu. Mbak Ratih seolah memperhatikanku dalam langkahku ke Musholla. Seusia sholat duha, aku menangis sepuas – puasnya, sajadah merah itupun basah, karena tangis sujudku. Biarlah perasaan ini memuai ataupun mengempis dengan sendirinya. Kuukir dengan senyum dan kututup dengan bedak mataku yang sembab dan hidungku yang merah. Kuhampiri budhe dan mbak Ratih diruang tengah.
“Kamu meamg sama seperti ayahmu, sholat sunnahpun engga ditinggalkan” kata budhe dengan menyuruhku duduk disampingnya, dan aku hanya tersenyum. “Di, nanti jam 1 kita ke lapangan samping balai desa ya! Lihat Reog Ponorogo!” ajak mbak Ratih. Akupun terlonjak dab semburat rasa penasaran menghinggapi wajahku “Ok! Aku mau banget!”.
Ba’da dzhuhur, kami berangkat, sedangkan budhe tidak ikut. Sesampainya disana “Libur sampai kapan Di? Dan udah daftar kemana ?” “Hari senin,4 mei 2009 ada pengumuman mbak, InsyaAllah di UGM, jurusan Hukum, mohon doanya ya mbak, mbak sendiri gimana kuliahnya ?” “masuk Semester 8 Di, bentar dan sebentar lagi pusing nyusun skripsi” “ ini nih! Yang patut dibanggakan dan lestarikan. Di Pasuruan aku pernah sekali nonton Reog, itupun waktu masih TK waktu ada selamatan desa. Maba critain dong asal mula kesenian budaya Reog Ponorogo ini!” tanyaku dengan perasaan ngeri karena pertunjukan Reog. “Ok! Sebenarnya ada 5 versi cerita yang berkembang dimasyarakat, tapi yang paling terkenal adalah pada abad ke 15 tentang bentuk pemberontakan sindiran Ki Ageng Kutu kepada Raja Bhre Kertabumi. Raja majapahit terakhir yang korup dan banyak dan banyak dipengaruhi kekuasaan rekan – rekan Cinanya yang tak bertanggung jawab yang dilambangkan bulu kipas merak raksasa sedangkan kepalanya singa barong adalah simbolis dari raja Kertabumi sendiri. Dan warog yang menjadi yang berada dibalik topeng badut merah menjadi symbol untuk Kki Ageng Kutu yang berjunag sendiri, gitu..”. “Oh jadi Ki Ageng Kutu sengaja membuat dan mempulerkan kesenian yang kaya hal mistik ini untuk menyindir Raja Kertabumi yang korup itu….”,”seratus buat kamu!” teriak mbak ratih, dan penontonpun menoleh ,karena merasa terganggu oleh teriakan mbak Ratih. Balutan kerudung merah mudaku dan jilbab putih mba Ratih yang terkena sinar matahari seolah menyilaukan mata mereka, sehingga merka memalingkan mata dan kembali melihat pertunjukan. Pertunjukan selesai dan kamipun pulang.
Sampai di rumah aku tak sengaja mendengar percakapan budhe dan pakdhe yang baru pulang mengajar “sejak Andi kesini pak,tetangga pada ngoceh semua, katanya wajah Andi yang pualam dan dagunya yang lancip itu,bikin mereka gemes, malah bu Nasrih bilang, Andi mau dijadiin menantu, katanya kaya aktris Chaty Sharon”,” si ibu ini bisa saja” jawab pakdhe ringan “ Assalamua’alaikum” salam kami bersama . “Wa’alaikumussalam” sambut pakdhe dan budhe. Aku dan mbak Ratih beranjak masuk. Berwudhu dan bersholat ashar berjamaah, kemudian kami bersih – bersih rumah lalu mandi.
Waktu menunjukan pukul 16.00 dan aku menggapai laptop berwarna merah, warna favoriteku. Jari – jarikupun mulai menari di atas keryboard, seluruh pikiranku sejak siang tadi kucurahkan dalam tulisan.
Peradaban, kesenian yang tak ternilai. Yang diakronis semakin terkikis.
Kritis mendekat nokta merah. Sangat terjamah tangan. Namun tiada terenyuh
Reog Ponorogo………….Adalah karya dan harta kita mengapa kita tak acuh
Tak inginkah kita menjadi hegemi. Hidup bukanlah anarki
Tak terhitung isyarat mereka. Namun tetap ironis. Tiada yang bertindak
Ilahi tunjukkan ilham khalaikmu. Maka kami isbat milik pertiwi
Kusailah, cinta dan bnaggakan. Pada bani kita di dunia
Hanya kita Laskar generasi muda. Yang menjaga legalitasasinya....
Hatiku agaknya sedikit melupakan kak Abdi. Tapi……,rasanya ingin sekali aku membaca surat itu lagi
Sabtu, 26 April 2009
Dear, Anindi Zakeiyah
Zamrud hatiku
Assalamu’alainkum Wr.Wb
Tak lepas hanya karena Allah aku memutuskan untuk menulis secarik surat ini untukmu…
Sungguh harambagiku bagiku untuk selalu menikmati wajahmu selama ini…….
Namun ,tak kuasa aku membendungnya
Suara salamu yang acap kali menyapaku
Menggelamkanku dalam bulir – bulir kasih
Simpul manis senymmu mampu merubah bentengku
Keras kepalaku yang acuh tak semua tema perempuan disekelilingku…
Meski taksering kita bertemu, namun sejak awal kita bertemu, dan mata kita beradu, disitu.......
Butiran air firdaus menyirami hatiku.
Hingga saat ini, benih cinta telah tumbuh berakar dan berkuncup. Namun aku hanya bisa berharap agar kuncup – kuncup itu dapat berbunga ….
Aku hanya bisa memohon dengan sangat kepada Allah agar hatimu terbuka untukku. Anna Ukhibbu Ilaika….
Wassalamualaikum Wr.Wb
Yang selalu merindukanmu karena Allah
Abdillah
Genangan air matapun mulai muncul, belum sempat menetes mbak Ratih masuk dalam kamarku dan duduk disampingku. Rupanya selama ini dia sudah tau hal apa yang aku pendam dan enggan untuk kuceritakan padanya. Akupun menyerahkan surat itu pada mbak Ratih dengan buliran air mata yang tak tertahan dan wajah yang tak berani ku angkat. Setelah 1 menit mbak Ratih melayangkan pertanyaan “ Kamu sayang sama dia ?” dengan terisak aku angkat bicara “ Aku takut denga pantangan agama dan orang tuaku”. “ Aku tau sayang, tapi usiamu sudah 18 th, masa dewasa awal, aku rasa Om dan tante tidak akan mencegahmu, asalkan kalian ta’aruf”, “ tapi…” sahutku ragu. “Abdillah, bukannya putera kepala sekolahmu yang pernah kamu ceritakan 6 bulan yang lalu lewat telfonkan?”
“ Ya!, dia terlalu baik untukku , lantunan taubatnya mampu mengetrakan hatiku. Guratan wajahnya adalah ciptaan Allah terindah yang pernah diperlihatkan-Nya padaku. Perkataan dan perbuatannyapun hampir selalu terjaga oleh malaikat Raqib dan Atid. “ Telpon sekarang! Katakana padanya! Kalau memang dia serius, dia harus menemuimu besok jumat, pukul 8 di Telaga Ngebel”, “tapi ………. Minggu – minggu dia sibuk mengurus perpindahnya buat ngambil magister di King Saud University”. “Terserah!?” jawab mbak Ratih menantangku. Akhirnya aku hanya mengirim SMS aku tak kuasa jika harus mendengar suaranya, meskipun lewat ponsel.
Hari jumat, usai subuh kulantunkan surat Al-Waqiah samar – samar, ku buka jendela kamar. Semalam kuingat tepatnya 2/3 waktu malam ketika aku bersujud pada Allah dan tahajjudku. Malaikat mikail menurunkan air hujan di tanah sumaroto, semerbak wangi tanha menyambutku dengan sangat khas. Dari jauh ku dengar sayup – sayup lantunan tadarus anak – anak kecil “Subhanallah ...” bisikku. Aku keluar dari kamar dan memulai rutinitas pagiku, membantu budhe bersih – bersih rumah dan halaman. Sedangkan mba Ratih, ia sudah berkutat dengan bumbu dapur bersama budhe. Tepat pukul 7 aku sudah siap dengan blouse dan kerudung merah favorit ku. Aku dan mbak ratih berangkat ke Telaga Ngebel yang berjarak 10m dari Desa Sumoroto dengan motor automatiq milik mbak Ratih. Kami isin pada budhe dan sekedar refresing kesana.
Sampai disana kami berjalan – jalan disekitar telaga. Untuk pertama kalinya aku kesan pemandangan alam yang indah. “Di Pasuruan jarang – jarang aku menikmati tempat seperti ini, selain di danau Rono “ ucapku dalam hati.
“ Di, hari ini kamu tampil lebih cantik dari biasanya? Hemh aku jadi iri” goda mbak Ratih. “Ah, Mbak..biasa aja jangan lebai dech !” “jangan khawatir, jangan takut dia pasti datang, dan kamu harus bersikap tenang ,OK?!”. “Ko kayak prosesi lamaran sih?”. “ Ya emang si Abdi ngelamr kamu lewat mbak.” Suasanapun semakin hangat karena gelak tawa kami. 15 menit menunggu, tepat pukul 8.00 sebuah mobil audy mewah menyusup diantara keramain lokasi parker Telaga Ngebel. Terlihat pengemudinya turun dengan style pria metropolis. Berbadan tega tinggi kira – kira 180cm….
Kemudian menghilang. Aku yakin, mobil itu adalah yang biasa dipakai ka’ Abdi untuk mengantar dan menjemput pak Mustofa kep. Sekolahku
“Assalamu’alaikum “ salam seorang pria dengan begitu lembutnya dibelakangku.”waalaikumssalam Ka’ Abdi??!” dan cesss..........., mata kami saling memandang seolah angin adam menerap wajahku, hatikupun bergetar tak tertahan, “Kak Abdi, kenalkan dia kakakku” merekapun saling memperkenalkan nama masing – masing dengan hanya menelangkupkan tangan.
Aku terdian 1000 bahasa dan tertunduk, dapat kurasakan kalau wajahku mulai memerah.
“Siapapun dia.... dia dapat menggetarkan hatimu dan dapat menggila karenanya
Seperti kisah cinta Laila-Majnun. Tak cukup bahagia jika melihatnya tersenyum
Karena orang lain. Tapi kaupun akan melakukan segala cara untuk mendapatkan
Cinta darinya meski sulit. Namun caramu itu bukan cara bodoh. Tapi......
Cara yang akan membuatmu diperhatikan, serta mendapat 1 dari belahan hatinya
Karena Allah hanya akn memberikan cinta sejati padamu dngan seorang saja.
Yang memang dikirimkan untuk menjadi halal bagimu
Memisahkan kalian melalui malaikat izrail…….”
Kalimat – kalimat itu keluar dari lisan mbak Ratih begitu puitis dengan berjalan mengelilingi kami.
“Anindi, Zamrud hatiku……ku mohon! Maukah kau meneriam cintaku?” Kak Abdi mulai bicara dengan posisi lutu kana menyentuh tanah, dan kaki lainnya tegak terliapt. Ia begitu yakin menatap wajahku, namun mataku selalu mencoba mencari objek untuk dipandang, selain membalas pandangannya.
“Tolong Kak jangan demikian?!, aku mohon berdirilah?!” ka’ Abdipun berdiri. “KakAbdi Anna Uhibbuka ……..” kataku menatap sekials wajahnya. Guratan senyum kebahgian sontak terpancar dari wajahnya, dan spintan tangannya berada didekat bahuku, seperti hendak memelukku. Dan……. “eits…!eits….! kalian belum halal! Gak boleh itu !” suara yg mengagetkanku. Ternyata sosok cantik bergamis angun telah berdiri dibelakangku, tepat disamping mbak Ratih, dia adalah bu Mustofa. Mbak Ratih tertawa puas melihat wajahku yang tampak malu “ Kalian Ta’aruf dulu, ntar kalo udah ijab qobul, baru boleh pelukan, seharian juga gak pa – pa” ujar mbak Ratih yang tetap dengan tawanya yang tertahan.
====================selesai====================
By: Dian W
Langganan:
Postingan (Atom)